Melihat Sedikit DUNIA TEATER
Begitu luasnya melihat ruang dunia teater untuk dipahami, maka mari bersama-sama kita melihat dunia teater dari yang “sedikit” terlebih dahulu.
Memasuki wilayah teater adalah memasuki wilayah yang sangat unik, karena teater bukan sekadar mengenal Dramaturgi, mempelajari seni peran (akting/lakon), dan pernak-perniknya baik yang menyangkut : olah tubuh, vokal, sukma, menganalisa naskah, atau mengenal sederetan nama serta
Disamping hal yang menyangkut teori dan praktek itu, ada pemahaman-pemahaman dan pembelajaran lebih kongkrit yang menyangkut pada nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri. Sehingga ber- proses dalam kegiatan teater terkadang lebih dijadikan sebuah pengalaman hidupnya sendiri yang berharga, karena dia masuk kedalam sebuah pengalaman hidup, atau realita baru yang berkembang, tetapi lebih peka dari kehidupannya sendiri, ini bisa menjadi pemaknaan bahwa ilmu teater dapat direfleksikan pada kehidupan nyata, karena yang menjadi dasar pengasahannya adalah rasa, dari rasalah manusia melakukan tabiat yang baik dan indah.
Tradisi teater
Saya menjadi sangat terkesan dengan apa yang pernah ditulis oleh Dramawan : WS. Rendra pada makalah diskusinya. Bahwa modal teater
Teater
Tetapi ada masa puncak kejayaan teater atau “Musim Semi Teater” yang ditandai ketika diubahnya Kebun Binatang Cikini menjadi Pusat Kesenian Taman Ismail Marzuki oleh Gubernur Jakarta Ali Sadikin pada tahun 1970. di era inilah penobatan aktifitas-aktifitas teater yang paling aktif, kreatif dan produktif. Dan ini tidak hanya di
TEATER
Dalam pertumbuhan perkembangan teater selama lebih dari 3 dasawarsa terakhir, berbagai gagasan tentang apa dan bagaimana seharusnya teater telah dikemukakan dan dicobakan penerapannya dalam pementasaanya. Kita pernah mendengar berbagai istilah seperti teater sutradara, teater tanpa penonton, teater mini kata, teater lingkungan. Berbagai istilah yang di belakangnya disokong oleh gagasan yang sesuai itu pada dasarnya merupakan ungkapan ketidakpuasan terhadap gagasan yang sudah mapan, yaitu yang terkandung, misalnya, dalam istilah teater aktor, teater dengan penonton (yang banyak), teater dialog, dan teater sastra (lakon); walaupun karena mapannya, semua istilah itu tidak lagi dikemukakan secara eksplisit.
Gagasan teater aktor terutama tertanam dalam kesadaran kita di zaman malang-melintangnya aktor-aktor besar kenamaan. Teater dengan penonton yang banyak merupakan gagasan yang muncul dengan menjadi box office-nya dunia lakon. Kebetulan pula bahwa teater dengan banyak penonton ini merupakan teater dialog dan teater sastra karena didasari sastra lakon (tertulis). Di samping itu, gagasan teater dengan banyak penonton ini sudah barang tentu merupakan bagian dari kesadaran kita karena eratnya hubungan kita dengan teater tradisional kita sendiri, seperti wayang golek, wayang kulit, reog, longser, lenong, dan ketoprak.
Ramainya kemunculan gagasan dan istilah itu layak disambut dengan gembira karena hal itu mengisyaratkan adanya dinamika dan vitalitas dalam kehidupan teater kita. Salah satu kehidupan teater yang paling dinamis dan penuh vitalitas adalah teater barat. Dan salah satu ciri teater barat adalah kesuburannya dalam bidang gagasan ini. Di abad XX saja, dari Eropa Barat kita diperkenalkan kepada gagasan seperti teater realisme, ekspresionisme, surealisme, realisme sosialis, teater art audian, teater absurd, teater kaum tertindas, teater imaji, teater forum, dan teater tak tampak.
Kendatipun demikian, dalam menghadapi ramainya gagasan dan istilah itu, diperlukan kewaspadaan agar kita tidak kehilangan perspektif dan melihat pohon tetapi lupa (tidak melihat) akan hutan.
“Tulisan ini bermaksud menelaah berbagai gagasan di balik aneka istilah itu dan meletakannya dalam perspektif tertentu, dalam hal ini adalah Peristiwa Teater.”
PERISTIWA TEATER
Peristiwa teater adalah suatu gejala yang rumit. Dari permukaannya, kalau suatu pementasan berhasil menciptakan peristiwa teater, kita dapat melihat bagaimana para seniman teater dan penonton disatukan oleh pengalaman atau visi yang sama. Seakan-akan mereka bersedih, bergembira, berharap, khawatir, takut, ngeri, bingung, paham, dan sebagainya secara bersama-sama. Para seniman mengungkapkan pengalaman atau visi dengan tempo dan irama, dengan pemeranan dan perupaan, dengan kata dan bunyi demikian rupa, hingga penonton diam, tertawa, menangis, merenung, marah, dan sebagainya di tempat dan pada saat yang sesuai dengan yang dituntut pengalaman dan atau visi bersama itu.
Di bawah permukaan itu terjadi proses kejiwaan yang tidak sederhana pula.
Mengapa para seniman (teater) berupaya melibatkan penonton dalam kegiatan bernama menangkap visi itu.? Bukankah kadang-kadang upaya itu tidak mendatangkan keuntungan dari sudut keuangan dan bahkan sering menuntut pengorbanan.?! Mengapa pula penonton bersedia bersusah-susah dalam upaya yang kadang-kadang tidak mudah untuk menangkap visi itu.?
Jawabnya terletak pada naluri menyelamatkan diri, pada naluri survival of the species. Semua jenis hewan dibekali perlengkapan khusus dalam melaksanakan naluri penyelamatan dirinya itu.perlengkapan ini disesuaikan dengan
Bagaimana sebagai seni menyumbangkan iurannya kepada masyarakat (penonton) dalam rangka masyarakat (penonton) itu melaksanakan naluri penyelamatan dirinya.? Jawabnya ialah dengan memberi peluang kepada seniman maupun masyarakat (penonton) untuk menangkap dan memiliki visi tentang salah satu sisi (aspek) kehidupan. Melalui peristiwa teater, para seniman dan masyarakat (penonton) diberi peluang untuk memahami dan menghayati secara jernih, meluas, dan mendalam, suatu sisi kehidupan. Setelah terlibat dalam peristiwa teater dan menangkap visi, seniman dan (masyarakat) penonton mendapat peluang untuk lebih siap dalam menghadapi kehidupan, khususnya sisi kehidupan yang berkaitan. Lebih siap berarti lebih besar memiliki peluang untuk survive, untuk menyelamatkan diri, secara jasmaniah, dan terutama secara rohaniah.
Dari uraian di atas kiranya jelas bahwa dalam peristiwa teater yang sejati terjadi kreativitas bersama antara seniman yang sejati dan masyarakat penontonnya. Terjadi proses dialektis antara prakarsa dan peran serta dalam suasana kebebasan dan kesukarelaan menuju kearah penjernihan, peluasan, dan pendalaman kesadaran tentang kehidupan. Kesejatian peristiwa teater seperti itu perlu digarisbawahi karena apa yang mungkin tampak di permukaan seperti peristiwa teater, setelah diamati lebih seksama ternyata merupakan peristiwa masturbasi kolektif, manakala impian yang bersifat menghindar dari realitas atau rasa frustrasi yang tidak diatasi, dikunyah-dimamah bersama-sama. Peristiwa teater sejati yang erat hubungannya dengan naluri survival memperkuat mereka yang terlibat, sementara penyimpangan dalam bentuk dan dalih apa pun cenderung memperlemah.
Mungkin dapat disimpulkan, bahwa peristiwa teater (sejati) dicapai dan diwujudkan melalui kerja dan kerja sama yang seksama. Dalam kerja teater yang melalui langkah-langkah perencanaan, persiapan dan pelaksanaan serta penilaian (evaluasi) itu terlibat dramawan (pengarang), sutradara, pemeran, dan penata artistik serta penonton. Kadang-kadang dramawan tidak terlibat kalau cerita yang dijadikan dasar merupakan sastra lisan yang sudah dikenal. Dalam peristiwa teater seperti itu, sutradara mengambil alih peran dramawan (pengarang) dan sekaligus menyusun dan mengendalikan perkembangan dramaturgi pementasan. Kadang-kadang sutradara pun tidak hadir sehingga peranan pengarang dan sutradara diambil alih oleh pemeran secara kolektif atau perorangan. Penata artistik dapat diabaikan, dan segala beban pengungkapan visi diserahkan kepada pemeran. Siapa yang hadir atau tidak hadir, siapa yang memegang supremasi (pengarangkah.? Sutradarakah.? Pemerankah.? Penata artistikkah.?) tidak niscaya menghasilkan atau menghasilkan peristiwa teater (sejati). Bukan saja faktor penonton sangat menentukan, tetapi bahkan kalau penonton (hipotesis, sasaran) sudah dipilih dengan seksama pun, masih banyak faktor yang tidak terkendali yang menentukan. Dengan kata lain, teater sutradara, teater aktor, teater mise en scene, teater tanpa penonton (misalnya teater tak tampak model Auguste Boal), teater forum, teater sastra, teater benda, dan sebagainya, sebenarnya memiliki peluang yang sama untuk berhasil atau gagal dalam mewujudkan peristiwa teater.
TEATER saja
Namun munculnya gagasan dan istilah itu, bukannya tidak berarti atau tidak penting. Munculnya gagasan dan istilah itu biasanya merupakan jawaban terhadap masalah khusus yang dihadapi seorang atau sekelompok seniman teater dalam keadaan, tempat, dan waktu tertentu. Jika kita mengambil perbandingan dengan teater barat, kita melihat bagaimana ketika teater realisme konvensional melalui rekayasa komersialisme menjadi mandul dan tidak lagi kreatif, Antonin Artaud mencanangkan teater kekajaman-nya; dan ketika teater dijajah sastra, dengan kata lain supremasi dipegang dramawan-sastrawan, Antonin Artaud mencanangkan teater mise en scene. Demikian pula halnya dengan Brecht, yang melihat kecenderungan yang kuat kearah masturbasi-emosional yang dapat ditimbulkan oleh realisme konvensional, melawannya dengan gagasan teater epik sekaligus realisme sosialis. Grotowsky kemudian mengembalikan supremasi kepada aktor, itu tidak dilakukannya dengan tanpa alasan atau tujuan, melainkan karena tuntutan keadaan, yaitu menjadi mewahnya teater dari segi sarana dan perlengkapan, akan tetapi menjadi miskin secara spiritual. Daftar gagasan dan para tokohnya dapat diperpanjang lagi, namun satu hal perlu disadari bahwa tidak ada di antara berbagai gagasan itu yang berupa panacea atau obat mujarab untuk semua penyakit. Karena faktor yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan, dan karena keadaan yang terus-menerus berubah, berbagai gagasan itu memiliki peluang yang sama untuk gagal atau berhasil dan terus-menerus ditinjau kembali.
Dalam upaya untuk senantiasa bersikap terbuka terhadap keadaan dan perubahan dan agar tetap kritis terhadap gagasan yang kita gunakan dalam menghadapi tantangan dan tuntutan keadaan tertentu, seyogianya kita senantiasa menyadari bahwa tujuan kita adalah mewujudkan peristiwa teater dan untuk mencapai tujuan itu kita harus mengubah-ubah tekanan (supremasi, prioritas, dan sebagainya). Dan, untuk justru tidak terjebak dalam salah satu tekanan saja, dan sadar akan tekanan yang harus selalu berubah (shifting point, kata Peter Brook), tidak ada salahnya kita tetap sadar pada gagasan “tetaer sebagai teater”. Atau “teater sebagai teater saja”.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar