10 Sikap dan Kesadaran Budaya
· Budaya Feodal lawan Budaya Egaliter
Budaya Feodalisme yang menghambat kemajuan harus dilawan dengan sikap dan kesadaran Budaya Egaliter. Sikap egaliter akan selalu menempatkan manusia pada posisi yang setara tanpa memandang status yang diperoleh karena keturunan, kekayaan, jabatan, pendidikan, suku, ras, dan agama/keyakinan.
Budaya Instant yang menganggap bahwa bahagia, kekayaan, kesuksesan dan prestasi bisa diraih layaknya kita membalikan tangan, juga harus dilawan dengan budaya yang memandang bahwa semua itu harus diraih dengan keringat dan air mata. Budaya-budaya yang menggampangkan penyelesaian persoalan dengan cara potong kompas dalam kehidupan sehari-hari mesti dilawan dengan cara-cara yang lebih beradab. Prestasi yang diraih dengan kerja keras harus diberi penghargaan secara layak dan harus diciptakan mekanisme penilaian untuk orang-orang yang meraih prestasi dengan kerja keras. Kita harus menanamkan pendidikan budaya yang memberi pengertian kepada anak-anak bahwa korupsi, perilaku tidak jujur, komersialisasi jabatan sampai jual-beli gelar, plagiat atau mencontek adalah contoh dari budaya Instant yang tidak layak diberi tempat di masyarakat.
Budaya Kulit atau tampilan luar dalam kehidupan memang penting guna menjaga citra diri atau image, banyak cara yang bisa ditempuh. Kita sudah harus mulai menanamkan kepada anak-anak sejak dini bahwa budaya isi (substansi) jauh lebih penting dari budaya kulit. Bukan kita iri atau cemburu dengan orang sukses dan kaya. Kita ingin agar kekayaan dan kesuksesan mereka dapat lebih bermakna bagi kehidupan banyak orang.
Budaya Penampilan seperti tampil keren, kece, cantik dan hebat sudah menjadi bagian dari kehidupan kita. Tak banyak orang sekarang yang mau dan berani tampil lebih sederhana dari penghasilannya. Bahkan tak jarang orang sudah menghabiskan penghasilannya sebelum penghasilan itu menjadi haknya. Kita sebut budaya kredit dan budaya hutang kini sudah menjadi bagian dari
· Budaya Boros lawan Budaya Hemat
Budaya kulit atau budaya penampilan jelas telah menjadikan budaya boros begitu telanjang dipelupuk mata kita. Kita jarang berpikir, jangan-jangan perilaku dan
Dengan kesadaran demikian pula kita ingin membuat sikap masa bodoh atau Apati yang membuat kita menutup mata terhadap persoalan disekitar kita segera diganti oleh tumbuhnya generasi yang berkesadaran Empatik. Budaya empati menumbuhkan kepedulian dan kesadaran untuk mendengar terhadap keluhan orang lain atau penderitaan sesama. Generasi empatik adalah generasi yang bisa hidup dalam semangat untuk memberi kepada yang kurang/tidak mampu, dan menyuarakan persoalan publik, serta membebaskan yang tertindas.
Budaya yang hanya bisa memakai menghabiskan waktu dan ruang yang tak bermanfaat harus dilawan dengan budaya yang lebih memberikan hal-hal yang bermanfaat dalam kehidupan. Kalau sekarang kita hanya menjadi masyarakat pemakai (pemakai barang produk luar negeri-konsumen pemikiran dan
Sampah akan menjadi persoalan urban yang pelik kalau kita tidak mencari solusi yang lebih terpadu dalam pembangunan dan penataan
· Budaya Terabas lawan Budaya Antri
Kebiasaan Antri juga harus di kampanyekan dan dimasyarakatkan ditempat-tempat milik publik. Kita harus menjadi bangsa yang beradab dan jangan asal Terabas. Budaya Antri menghargai keteraturan yang tidak dipaksakan, tapi tumbuh dari kesadaran dan penghargaan terhadap orang lain.
· Budaya Kompetisi lawan Budaya Kerjasama
Kita memang perlu berkompetisi, asal kompetisi itu sehat dan fair. Karena kita ingin yang terbaiklah yang muncul sebagai pemimpin atau pemenang. Kita harus menanamkan budaya menerima kekalahan secara fair dan menghargai prestasi orang lain agar kehidupan berjalan seimbang dan sehat. Ini baik dalam pendidikan juga dalam demokrasi. Kalau kita sulit membangun budaya kompetisi, minimal kita sudah mulai berpikir, bagaimana cara membangun budaya kerjasama.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar