Selasa, 29 April 2008

RENUNGAN BUDAYA

10 Sikap dan Kesadaran Budaya

· Budaya Feodal lawan Budaya Egaliter

Budaya Feodalisme yang menghambat kemajuan harus dilawan dengan sikap dan kesadaran Budaya Egaliter. Sikap egaliter akan selalu menempatkan manusia pada posisi yang setara tanpa memandang status yang diperoleh karena keturunan, kekayaan, jabatan, pendidikan, suku, ras, dan agama/keyakinan.

· Budaya Instant lawan Budaya Kerja Keras

Budaya Instant yang menganggap bahwa bahagia, kekayaan, kesuksesan dan prestasi bisa diraih layaknya kita membalikan tangan, juga harus dilawan dengan budaya yang memandang bahwa semua itu harus diraih dengan keringat dan air mata. Budaya-budaya yang menggampangkan penyelesaian persoalan dengan cara potong kompas dalam kehidupan sehari-hari mesti dilawan dengan cara-cara yang lebih beradab. Prestasi yang diraih dengan kerja keras harus diberi penghargaan secara layak dan harus diciptakan mekanisme penilaian untuk orang-orang yang meraih prestasi dengan kerja keras. Kita harus menanamkan pendidikan budaya yang memberi pengertian kepada anak-anak bahwa korupsi, perilaku tidak jujur, komersialisasi jabatan sampai jual-beli gelar, plagiat atau mencontek adalah contoh dari budaya Instant yang tidak layak diberi tempat di masyarakat.

· Budaya Kulit lawan Budaya Isi

Budaya Kulit atau tampilan luar dalam kehidupan memang penting guna menjaga citra diri atau image, banyak cara yang bisa ditempuh. Kita sudah harus mulai menanamkan kepada anak-anak sejak dini bahwa budaya isi (substansi) jauh lebih penting dari budaya kulit. Bukan kita iri atau cemburu dengan orang sukses dan kaya. Kita ingin agar kekayaan dan kesuksesan mereka dapat lebih bermakna bagi kehidupan banyak orang.

· Budaya Penampilan lawan Budaya Hidup Sederhana

Budaya Penampilan seperti tampil keren, kece, cantik dan hebat sudah menjadi bagian dari kehidupan kita. Tak banyak orang sekarang yang mau dan berani tampil lebih sederhana dari penghasilannya. Bahkan tak jarang orang sudah menghabiskan penghasilannya sebelum penghasilan itu menjadi haknya. Kita sebut budaya kredit dan budaya hutang kini sudah menjadi bagian dari gaya hidup kita, bahkan sudah menjadi darah daging dan gaya hidup pemerintah kita. Sementara budaya hidup sederhana akan membuat kita merasa terasing dihadapan tetangga, keluarga atau kolega saat kita berpenampilan serba sederhana. Setiap hari anak-anak kita di beri khotbah oleh pesan-pesan, iklan komersial dan sinetron yang padat akan gaya hidup glamour, agar mereka memuja budaya penampilan. Dimasa depan kita ingin agar anak-anak kita menjadi lebih sederhana dari kita, sekalipun kita tetap berusaha agar mereka jauh lebih sukses dan bahagia dari kita.

· Budaya Boros lawan Budaya Hemat

Budaya kulit atau budaya penampilan jelas telah menjadikan budaya boros begitu telanjang dipelupuk mata kita. Kita jarang berpikir, jangan-jangan perilaku dan gaya hidup serba boros sudah mendarah daging dalam kehidupan kita. Cobalah kita simak di kantor, di jalan, atau di rumah. Bagaimana kita menggunakan tenaga listrik, air, ataupun pulsa telepon, khususnya telepon genggam (HP). Kalau dahulu orangtua memberi anak uang bisa ditabung atau dibelikan emas, sekarang begitu banyak orangtua yang menganggarkan uang untuk pulsa bulanan buat sibuah hatinya dan mungkin ini agak sedikit kedengaran primitif.

· Budaya Apati lawan Budaya Empati

Dengan kesadaran demikian pula kita ingin membuat sikap masa bodoh atau Apati yang membuat kita menutup mata terhadap persoalan disekitar kita segera diganti oleh tumbuhnya generasi yang berkesadaran Empatik. Budaya empati menumbuhkan kepedulian dan kesadaran untuk mendengar terhadap keluhan orang lain atau penderitaan sesama. Generasi empatik adalah generasi yang bisa hidup dalam semangat untuk memberi kepada yang kurang/tidak mampu, dan menyuarakan persoalan publik, serta membebaskan yang tertindas.

· Budaya Konsumtif lawan Budaya Produktif

Budaya yang hanya bisa memakai menghabiskan waktu dan ruang yang tak bermanfaat harus dilawan dengan budaya yang lebih memberikan hal-hal yang bermanfaat dalam kehidupan. Kalau sekarang kita hanya menjadi masyarakat pemakai (pemakai barang produk luar negeri-konsumen pemikiran dan gaya hidup asing), dimasa depan konstruksi budaya yang paling berat dan krusial adalah bagaimana membuat bangsa ini menjadi bangsa yang menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan dan kemanusiaan. Tantangn pendidikan kita adalah bagaimana menjadikan generasi konsumtif berubah menjadi generasi produktif.

· Budaya Sampah lawan Budaya Bersih

Sampah akan menjadi persoalan urban yang pelik kalau kita tidak mencari solusi yang lebih terpadu dalam pembangunan dan penataan kota dimasa depan. Kita sekarang hidup dalam “Masyarakat serba membuang”, artinya beli-pakai sekali, setelah itu buang. Untuk itu kita harus menanamkan budaya bersih sejak dini dalam lingkungan keluarga, tetangga, dan masyarakat luas.

· Budaya Terabas lawan Budaya Antri

Kebiasaan Antri juga harus di kampanyekan dan dimasyarakatkan ditempat-tempat milik publik. Kita harus menjadi bangsa yang beradab dan jangan asal Terabas. Budaya Antri menghargai keteraturan yang tidak dipaksakan, tapi tumbuh dari kesadaran dan penghargaan terhadap orang lain.

· Budaya Kompetisi lawan Budaya Kerjasama

Kita memang perlu berkompetisi, asal kompetisi itu sehat dan fair. Karena kita ingin yang terbaiklah yang muncul sebagai pemimpin atau pemenang. Kita harus menanamkan budaya menerima kekalahan secara fair dan menghargai prestasi orang lain agar kehidupan berjalan seimbang dan sehat. Ini baik dalam pendidikan juga dalam demokrasi. Kalau kita sulit membangun budaya kompetisi, minimal kita sudah mulai berpikir, bagaimana cara membangun budaya kerjasama.

Tidak ada komentar: